Jangan takut dengan 'singa' kehidupanmu

Renungan Harian — Kamis, 27 Nov 25

Pekan Biasa XXXIV

Warna Liturgi: Hijau
Bacaan I: Dan 6:12-28
Mazmur Tanggapan: T.Dan 3:68.69.70.71.72.73.74
Bait Pengantar Injil: Luk 21:28
Bacaan Injil: Luk 21:20-28

Ayat Emas:

“Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat.”(Lukas 21:28)


Renungan:

Bacaan hari ini membawa kita kembali kepada keberanian Daniel yang tetap setia berdoa meskipun nyawanya terancam. Ia tidak menurunkan intensitas imannya, tidak bersembunyi, dan tidak menyamakan dirinya dengan tekanan manusia. Kesetiaannya membuat ia akhirnya masuk gua singa, namun justru di tempat yang paling menakutkan itu Allah menunjukkan kuasa-Nya. Daniel berkata,

“Allahku telah mengutus malaikat-Nya untuk mengatupkan mulut singa-singa.”

Kesetiaan Daniel inilah yang Yesus teguhkan dalam Injil hari ini. Ketika tanda-tanda ketakutan, keguncangan, dan kesesakan terjadi, Yesus mengatakan:

“Bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat.”

Yesus tidak menjanjikan bahwa hidup akan bebas dari tekanan, tetapi Ia menegaskan bahwa di tengah ketakutan, Allah tetap bekerja dan mendekatkan keselamatan-Nya kepada umat-Nya.


Ketika saya merenungkan bacaan ini, saya teringat kembali kepada peristiwa yang sangat mengguncang hidup saya dan keluarga ketika COVID-19 berada pada puncak keganasannya. 

Pada masa itu, banyak orang meninggal secara tiba-tiba: pastor paroki kami, adik ipar saya, dan begitu banyak orang yang sebelumnya terlihat sehat. Suasana penuh ketakutan. Orang-orang enggan bertemu, semua terasa mencekam.


Pada masa yang penuh kecemasan itu, istri saya tiba-tiba sakit nyeri dada, sesak napas, dan panas di dada—ini kali ketiga masuk rumah sakit, setelah serangan jantung pertama 5 bulan sebelumnya. Rumah sakit penuh sesak. Tidak ada ruangan kosong. Istri saya harus diperiksa di tenda darurat di halaman rumah sakit.

Dua hari kami berada di tenda itu hingga saya memberanikan diri bertanya kepada dokter, “Mengapa istri saya dibiarkan seperti ini? Kapan ia ditangani?”

Jawaban dokter membuat saya tertegun: ia menduga istri saya terkena COVID-19, meskipun tes antibodi dan antigen negatif. Hasil rontgen menunjukkan paru-parunya putih, seolah dipenuhi cairan.


Saya dihadapkan pada pilihan yang sangat sulit:

menandatangani persetujuan agar istri saya masuk ke IGD yang penuh pasien COVID,

atau

membiarkannya tetap di tenda tanpa perawatan lanjutan.


Jujur, hati saya hancur. Saya bingung dan takut. Rasanya seperti berdiri di depan mulut gua singa yang siap menerkam. Jika ia masuk IGD, saya tidak rela ia berada di ruangan dengan pasien yang terpapar COVID  yang mengerikan. Tetapi jika tidak, ia tidak akan mendapatkan bantuan apa pun untuk jantungnya.


Saya berdoa dalam hati:

“Tuhan, apa yang harus saya lakukan?”

Di tengah kebingungan itu, melalui dokter lain saya mendapatkan saran untuk melakukan PCR mandiri agar hasil keluar lebih cepat. Biayanya masih lumayan mahal saat itu, dan harus dua kali tes—tetapi itu satu-satunya jalan yang saya lihat terbuka waktu itu. Saya setuju dan menandatangani formulir agar istri saya bisa masuk IGD terlebih dahulu.

Ketika ia masuk, hati saya semakin ciut. Ruangan itu penuh dengan orang-orang yang sesak napas. Bahkan ada seorang ibu hamil 9 bulan yang juga terinfeksi, nafas saja susah bagaimana mau melahirkan? 

Oh Tuhan.... 

Namun di tengah pemandangan yang mencekam itu, istri saya tampak tenang. Ia bahkan bisa tidur. Ketika saya bertanya apakah ia baik-baik saja, ia menjawab,

“Tuhan bilang cintailah musuhmu. Jika musuh disekitarku COVID, Aku harus berdamai dengan kondisi ini.”

Jawaban itu justru menghantam hati saya sendiri. Ia begitu tenang, sementara saya begitu kacau. Badan saya terasa mau sakit,  saya pulang untuk mandi dan mencoba tidur untuk memulihkan kondisi saya, tetapi tidak bisa. Saya duduk di kursi tempat saya biasa melayani Pengajaran KEP online, saya diam, bingung, memejamkan mata dalam doa, dan berkata,

“Tuhan, tolong saya.”

Tak lama kemudian—sekitar pukul 21.00 WIB—HP saya berbunyi. Ternyata hasil PCR masuk dan menyatakan NEGATIF. 

Saya hampir melompat. Air mata meleleh. Tuhan menjawab doa saya begitu cepat. 

Saya segera mengirim hasil itu ke rumah sakit. Meskipun mereka masih menunggu tes kedua keesokan harinya, saya sudah tenang karena saya tahu Allah sedang bekerja.

Keesokan harinya, hasil PCR kedua keluar, hasilnya NEGATIF juga. 

Selanjutnya istri saya boleh dipindahkan ke ruang perawatan dan akhirnya bisa mendapatkan perawatan jantung yang ia perlukan.


Peristiwa itu mengingatkan saya bahwa Allah yang menutup mulut singa bagi Daniel adalah Allah yang sama yang menutup “singa-singa” dalam hidup kita hari ini—ketakutan, kecemasan, ancaman penyakit, dan situasi yang seolah tidak ada jalan keluarnya. 

Dalam doa yang sederhana, dalam saat kita paling lemah, Allah justru menunjukkan kuasa-Nya.

Sekalipun kita berada di tengah situasi paling gelap, Tuhan berkata kepada kita sebagaimana Ia berkata kepada murid-murid-Nya:

“Angkatlah mukamu.”

Jangan takut terhadap "singa-singamu",  karena Dia selalu ada untuk menutup mulutnya dan pertolongan-Nya tidak pernah terlambat buat kita.


Marilah berdoa:

Tuhan Allah yang Mahakasih,

Engkau mengetahui setiap tekanan, ketakutan, dan pergumulan hidup kami.

Melalui kisah Daniel dan pengalaman hidup kami sendiri, Engkau mengajari kami bahwa Engkau selalu hadir, bahkan di tengah badai yang paling menakutkan.

Berilah kami iman yang teguh, hati yang tenang, dan keberanian untuk mengangkat wajah kepada-Mu ketika dunia terasa seperti gua singa.

Ajarilah kami percaya bahwa Engkau selalu membuka jalan ketika jalan di depan tampak tertutup.

Kami serahkan hidup kami ke dalam pemeliharaan-Mu.

Demi Kristus Tuhan dan  Penyelamat kami.

Amin.

Terima kasih telah membaca renungan hari ini. Jika renungan ini memberkati Anda, silakan bagikan kepada teman atau keluarga agar lebih banyak orang mengalami sapaan-Nya. Tuhan memberkati.



Komentar

  1. Ahh renungan hari ini bikin nangis dan ini buat sy renung kembali Tuhan itu selalu ada saat titik terendah hidup sy...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin, Thanks Sis
      Silahkan dibagikan ke temen-temen, semoga boleh juga mengalami berkat dan peneguhan. 🙏

      Hapus
  2. Trims Pak Titus
    Tuhan sayang bapak dan keluarga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin, Terimakasih Pak Boedz, itu hanya cuplikan bukti cinta Tuhan kepada kami. 4 kali dalam setahun istri saya keluar masuk Rumah sakit. 4 kali itulah tanda Cinta Tuhan bagi kami. Ada pembaharuan setelah proses yang menurut kacamata dunia kami sedang jatuh, tetapi 4 kali pula kami melihat pertolonganNya . Akhirnya kami tahu untuk apa kami harus mengalami itu semua tidak lain hanya karena supaya kami lebih bisa melihat dan mengalami,Tuhan ada. ❤️‍🔥

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Maria, Hawa Baru yang Membuka Jalan Keselamatan

Abu di Dahi, Pertobatan di Hati