Beranikah Kamu Naik Pohon Ara itu?

Kalender Liturgi 18 Nov 2025
Selasa Pekan Biasa XXXIII
PF Gereja Basilik S. Petrus dan Paulus, Rasul
Warna Liturgi: Hijau
Bacaan I: 2Mak 6:18-31
Mazmur Tanggapan: Mzm 3:2-3.4-5.6-7
Bait Pengantar Injil: 1Yoh 4:10b
Bacaan Injil: Luk 19:1-10


Ayat Emas: 

“Hari ini Aku mau menumpang di rumahmu.” (Lukas 19:5b)


Renungan:

Pernahkah kamu merasa imanmu “pendek”? Tidak besar, tidak cukup, bahkan merasa sangat sulit merasakan hadirat Tuhan? Saya pernah. Dan kisah Zakheus mengubah cara saya melihat hal itu—bahkan memperbarui hidup saya.

Dua puluh tahun lalu, saya sudah cukup aktif di Gereja: menjadi ketua rukun, pengurus lingkungan, dan sekretaris PSE Paroki. Dalam pandangan orang lain, hidup rohani saya mungkin terlihat “baik”. Tapi dalam hati, saya sadar ada sesuatu yang pendek, doa yang dangkal, relasi pribadi dengan Tuhan yang terasa kering, dan kerinduan yang belum sepenuhnya hidup.

Saat masa APP (Aksi Puasa Pembangunan) saya mengikuti renungan di lingkungan kami, bahan pendalaman iman mengambil kisah Zakheus. Dan hari itu, sesuatu mengetuk hati saya. Saya melihat diri saya di sana: seperti Zakheus, badannya pendek yang ingin mencari Yesus, tetapi terhalang oleh kerumunan orang banyak.

Beberapa waktu setelah APP, saya ikut persekutuan doa. Sebagai orang Jawa, sejak kecil saya dibiasakan berdoa dalam hening, teduh, silentium. Doa adalah keheningan yang rapi dan teratur. Jadi ketika masuk persekutuan doa yang ramai, dengan pujian lantang, tepuk tangan, dan ungkapan syukur yang bebas… saya merasa aneh, bahkan ragu.

Tapi kisah Zakheus mengingatkan saya: ia juga melakukan hal yang aneh—memanjat pohon ara. Tidak elegan, tidak sesuai statusnya, bahkan memalukan. Namun lewat itu ia bisa melihat Yesus dengan jelas.

Saya sadar, pengalaman saya di persekutuan doa itu adalah pohon ara hidupku. Tempat yang asing, berbeda, bahkan canggung, tapi justru di sanalah Tuhan ingin saya bertemu dengan-Nya lebih dekat.

Di tengah pujian yang riuh, saya menemukan keheningan baru, bukan karena budaya atau tradisi, tetapi karena Roh Kudus menyentuh hati saya. Puncaknya saat mengikuti retreat awal, saya merasakan dengan jelas: Yesus memandang saya dan berkata:

“Aku mau tinggal dalam hatimu.”

Sejak saat itu, hidup saya mulai berubah: doa menjadi lebih hidup, pelayanan lebih penuh sukacita, lebih bisa menghayati Ekaristi, Roh Kudus menuntun untuk mengerti isi dari setiap bacaan Kitab Suci dan iman yang “pendek” perlahan diperbarui. Saya belajar dan membuka hati untuk Roh Kudus boleh mengubah saya, pertobatan sering dimulai ketika kita berani naik pohon ara yang Tuhan sediakan, meski pohon itu terasa aneh, asing, atau tidak nyaman. Tetapi justru di sanalah Yesus menunggu, menatap, dan memanggil nama kita.


Refleksi Pribadi:

1. Apakah ada bagian dari hidupmu yang selama ini terasa “pendek” atau kurang dekat dengan Tuhan?

2. Pohon ara apa yang mungkin Tuhan sediakan untukmu sekarang, hal yang asing, menantang, atau berbeda dari kebiasaanmu, agar kamu bisa melihat-Nya lebih jelas?


Marilah berdoa:

Tuhan Yesus, terima kasih Engkau selalu mencari aku terlebih dahulu.

Bantulah aku berani naik pohon ara yang Kau sediakan, dan buka hatiku supaya Engkau sungguh tinggal dan memperbarui hidupku.

Amin. 


------------------------

Terima kasih telah membaca renungan hari ini. Jika renungan ini memberkati Anda, silakan bagikan kepada teman atau keluarga agar lebih banyak orang mengalami sapaan-Nya. Tuhan memberkati.




Komentar

  1. Terima Kasih Tuhan Yesus sudah mememukan sy wlpun ditengah tengah kebisingan dunia...Sy sangat terinspirasi dengan renungan hari ini

    BalasHapus
  2. Thank you Sis Aveil, Tuhan Memberkati

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Maria, Hawa Baru yang Membuka Jalan Keselamatan

Abu di Dahi, Pertobatan di Hati