Daun Subur Tanpa Buah
Renungan Harian – Rabu, 06 Mei 2026 (Paskah V)
Warna Liturgi: Putih
Daftar Bacaan:
Bacaan I: Kis 15:1-6
Mazmur Tanggapan: Mzm 122:1-2.3-4a.4b-5
Bait Pengantar Injil: Yoh 15:4a.5b
Bacaan Injil: Yoh 15:1-8
Ayat Emas:
“Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” (Yoh 15:5)
Renungan:
Dalam hidup, kita sering merasa lelah tanpa tahu pasti penyebabnya. Kita sibuk, berjuang, berusaha menjadi lebih baik… tetapi hati terasa kosong.
Ada saat di mana kita seperti “kering” ....kehilangan arah, kehilangan sukacita, bahkan kehilangan makna. Kita tetap berjalan, tetapi seperti tanpa daya hidup di dalamnya.
Hari ini, Tuhan Yesus memberikan gambaran yang sederhana namun sangat jujur:
kita adalah ranting, dan Dia adalah pokok anggur.
Ranting tidak bisa hidup dari dirinya sendiri.
Ia hanya berbuah jika melekat pada pokoknya.
Di sinilah sering letak pergumulan kita:
kita mencoba hidup dengan kekuatan sendiri.
Kita ingin tetap “berbuah”, tetapi tanpa sungguh-sungguh tinggal dalam Tuhan.
Akibatnya, kita perlahan menjadi kering....meski dari luar tetap terlihat hidup.
Namun Sabda hari ini juga mengajak kita untuk masuk lebih dalam.
Ada satu gambaran yang kuat menegur hati:
pohon yang daunnya lebat, tetapi tidak berbuah.
Dari luar, pohon itu tampak hidup....bahkan indah.
Tetapi ia tidak memberi apa-apa.
Tidak ada buah yang bisa dinikmati, tidak ada kehidupan yang dibagikan.
Bukankah ini juga bisa menjadi gambaran hidup kita?
Kita bisa tampak rohani…
aktif dalam pelayanan…
sibuk dalam banyak hal baik…
Tetapi di hadapan Tuhan, pertanyaannya sederhana:
apakah ada buah?
Buah kasih…
buah kesabaran…
buah pengampunan…
buah hidup yang diubah oleh Tuhan…
Seringkali kita memiliki banyak “daun”....aktivitas, pengetahuan, penampilan iman....
tetapi Tuhan tidak mencari daun.
Tuhan mencari buah.
Dan buah itu tidak lahir dari usaha kita sendiri.
Allah adalah Pengusaha kebun yang penuh kasih.
Ia merawat, membersihkan, bahkan memangkas kita....
bukan untuk melukai, tetapi supaya kita berbuah lebih banyak.
Dalam Yesus, kita melihat kasih Allah yang tidak menyerah pada kita.
Ia tidak menolak ranting yang lemah,
tetapi mengundang kita untuk kembali tinggal di dalam-Nya.
“Tinggallah di dalam Aku,” sabda-Nya.
Bukan sekadar percaya dari jauh,
tetapi hidup dekat, melekat, dan bergantung sepenuhnya pada-Nya.
Hari ini, mungkin kita menyadari:
hati mulai kering… doa mulai hambar… kasih mulai dingin…
Tetapi Allah melalui selalu mengasihi Manusia, melalui Yesus mencari kita untuk kembali pada pokok yang benar.
Tinggal kembali dalam Tuhan.
Melekat kembali pada Kristus.
Membiarkan firman-Nya menghidupkan kita dari dalam.
Karena pada akhirnya, bukan seberapa banyak yang kita lakukan…
tetapi apakah kita sungguh tinggal di dalam Kristus, yang menentukan hidup bukan yang berdaun lebat tetapi yang berbuah lebat.
Daun bisa membuat kita terlihat hidup,
tetapi hanya buah yang membuktikan bahwa kita sungguh tinggal di dalam Tuhan.
Marilah Berdoa:
Bapa yang penuh kasih,
Engkau adalah sumber hidupku.
Seringkali aku berjalan sendiri,
mencari kekuatan dari diriku sendiri,
dan akhirnya menjadi lelah dan kering.
Tariklah aku kembali kepada-Mu.
Ajar aku untuk tinggal dalam Putra-Mu, Yesus Kristus.
Biarlah firman-Mu menghidupkan hatiku,
dan Roh-Mu menumbuhkan buah dalam hidupku.
Jadikan aku ranting yang melekat pada-Mu,
dan berbuah bagi kemuliaan nama-Mu.
Amin.
Catatan Katekese Singkat:
Paus Fransiskus mengajarkan:
“Tidak ada yang lebih indah daripada perjumpaan dengan Kristus yang hidup.”
Iman bukan pertama-tama soal aktivitas atau kewajiban, melainkan perjumpaan yang hidup dengan Kristus.
Dari perjumpaan itulah lahir kehidupan baru dan dari kehidupan itulah muncul buah yang sejati. (EG.7)

Komentar
Posting Komentar