Damai yang Tidak Bisa Dirampas Dunia
Renungan Harian – Selasa, 05 Mei 2026 (Paskah V)
Warna Liturgi: Putih
Daftar Bacaan:
Mazmur Tanggapan: Mzm 145:10-11.12-13ab.21
Bait Pengantar Injil: Luk 24:46.26
Bacaan Injil: Yoh 14:27-31a
"Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu... Janganlah gelisah dan gentar hatimu!" (Yoh 14:27)
Renungan
“Untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara” (Kis 14:22).
Sekilas, kalimat ini terasa berat, seolah iman identik dengan penderitaan.
Namun Sabda hari ini justru tidak ingin menakut-nakuti kita…
melainkan menuntun kita menemukan sesuatu yang lebih dalam:
bahwa di tengah sengsara pun, Tuhan memberikan damai yang tidak bisa dirampas oleh dunia.
Dalam hidup, kita sering mencari damai… tetapi justru merasa semakin gelisah. Kita berusaha menghindari masalah, mengatur segala sesuatu agar tetap nyaman, dan berharap hidup berjalan sesuai rencana. Namun kenyataannya tidak selalu demikian. Ada luka, penolakan, kegagalan, bahkan penderitaan yang datang tanpa kita undang. Di saat-saat seperti itu, hati mudah goyah....iman pun bisa ikut melemah.
Bacaan hari ini memperlihatkan kenyataan yang dialami para rasul. Paulus dilempari batu, disangka mati, namun bangkit kembali dan melanjutkan perutusannya. Ia tidak mundur. Ia justru kembali untuk menguatkan jemaat dan meneguhkan mereka agar tetap bertekun dalam iman. Apa yang ia sampaikan bukan teori, tetapi pengalaman iman: bahwa jalan menuju Kerajaan Allah memang tidak selalu mudah....tetapi justru di sanalah iman dimurnikan.
Di tengah kenyataan penderitaan itu, kita mungkin bertanya:
bagaimana mungkin dari sengsara justru lahir damai?
Di sinilah kita masuk lebih dalam ke misteri iman kita.
Sengsara yang dialami para rasul bukan sekadar penderitaan manusiawi....
itu adalah bagian dari jalan yang sama yang telah ditempuh oleh Kristus sendiri: jalan salib.
Yesus tidak hanya mengajarkan tentang kasih…
Ia menghidupinya sampai tuntas.
Di salib, Ia menyerahkan diri-Nya sebagai korban pendamaian,
memulihkan hubungan manusia dengan Allah yang telah rusak oleh dosa.
Dan justru dari sanalah semuanya berubah.
Dari salib....yang tampak sebagai kekalahan.... lahirlah kemenangan.
Maka ketika Yesus berkata,
"Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu,"
itu bukan sekadar kata penghiburan…
melainkan buah dari kasih yang telah berkorban sepenuhnya.
Damai itu bukan karena hidup kita bebas dari penderitaan,
tetapi karena kita tidak lagi terpisah dari Allah.
Kita telah diperdamaikan. Kita telah dikasihi. Kita telah diselamatkan.
Hari ini kita diajak untuk melihat kembali hati kita. Mungkin selama ini kita mengejar damai versi dunia....damai yang rapuh dan mudah hilang. Tuhan mengundang kita untuk masuk lebih dalam: percaya kepada-Nya, tinggal dalam kasih-Nya, dan menemukan damai yang tidak tergantung keadaan. Damai yang tetap ada, bahkan ketika hidup tidak berjalan seperti yang kita inginkan.
Damai dari Tuhan bukan berarti hidup tanpa masalah… tetapi saat ada masalah hati yang tetap teguh karena berjalan bersama Dia.
Marilah Berdoa:
Bapa yang penuh kasih,
di tengah kegelisahan dan pergumulan hidupku,
Engkau tetap menawarkan damai yang sejati.
Ajarlah aku untuk percaya,
bahwa bahkan dalam penderitaan, Engkau sedang bekerja.
Pulihkanlah hatiku yang terluka,
dan tuntunlah aku untuk tinggal dalam kasih-Mu.
Berikanlah aku damai-Mu—
damai yang tidak tergantung keadaan,
tetapi berakar dalam kehadiran-Mu.
Dalam nama Tuhan Yesus, aku berdoa. Amin.
Catatan Katekese Singkat:
"Hati kami gelisah sampai beristirahat di dalam Engkau."
Kegelisahan dan penderitaan dalam hidup sering kali justru menjadi jalan yang menuntun kita kembali kepada Allah—sumber damai sejati yang tidak dapat diberikan oleh dunia.
St. Agustinus (Confessiones, I,1)

Komentar
Posting Komentar