Yesus: Wajah Allah yang Nyata
Dalam Yesus kita bisa melihat, merasakan dan mengalami Allah yang penuh Kasih itu setiap hari.
👉 Baca selengkapnya:
Renungan Harian – Sabtu, 2 Mei 2026 (Paskah IV)
PW S. Atanasius, Uskup dan Pujangga Gereja
Warna Liturgi: Putih
Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1.2-3ab.3cd-4
Bait Pengantar Injil: Yoh 8:31b-32
Bacaan Injil: Yoh 14:7-14
Ayat Emas:
"Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa." (Yoh 14:9)
Renungan:
Filipus berkata dengan jujur:
“Tuhan, tunjukkanlah Bapa kepada kami… dan itu sudah cukup.”
Ia rindu melihat Allah.
Ia ingin kepastian.
Ia ingin mengalami Allah secara nyata.
Namun jawaban Yesus justru menggugah hati:
“Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu… namun engkau tidak mengenal Aku?”
Ini bukan sekadar jawaban.
Ini adalah teguran yang menyentuh kedalaman hati.
Karena ternyata,
dekat dengan Yesus… belum tentu mengenal Dia.
Filipus sudah berjalan bersama Yesus.
Ia melihat mukjizat.
Ia mendengar Sabda.
Namun tetap saja…
ia belum sungguh mengenal.
Yesus kemudian menyatakan bahwa:
“Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa.”
Inilah inti iman kita.
Dalam Yesus, Allah menyatakan diri-Nya sepenuhnya dan kita melihat siapa Allah sebenarnya.
Gereja juga menegaskan hal ini.
Paus Paulus VI mengajarkan, isi Evangelisasi tidak pernah berubah, yaitu suatu Kesaksian tentang kasih Bapa, bahwa melalui Putra-Nya Allah mengasihi dunia.
Yesus adalah Sang Sabda yang menjadi manusia, maka melalui Dia, wajah Allah bisa kita lihat, dengar, dan alami.
Bayangkan kita berdiri di depan sebuah cermin.
Kita tidak melihat diri kita secara langsung,
tetapi melalui cermin itu,
wajah kita menjadi nyata dan terlihat.
Yesus adalah “cermin sempurna” dari Allah Bapa.
Apa yang kita lihat dalam Yesus...
itulah siapa Allah.
Saat Yesus mengampuni…
itu adalah kasih Allah.
Saat Yesus berbelas kasih…
itu adalah kasih Allah.
Saat Yesus menyerahkan diri di salib…
itulah kasih Allah yang tanpa batas kepada manusia.
Mari refleksi dalam diri kita saat ini:
Dengan iman kepada Yesus kita bisa melakukan banyak hal: berdoa, membaca Sabda Tuhan, membaca dan mendengar renungan harian, mengikuti Ekaristi dan banyak kegiatan rohani lainnya, tetapi sungguhkah kita merasakan "Kasih" melalui semuanya itu?
Jangan hanya berhenti pada rutinitas rohani tanpa mengalami perjumpaan dengan Tuhan yang sungguh mau menyatakan kasih-Nya melalui semuanya itu.
Karena melihat dengan mata
tidak sama dengan melihat dengan iman.
Bacaan pertama menunjukkan kontras yang tajam:
Ada yang menolak Sabda karena iri hati.
Ada yang menerima Sabda dengan sukacita.
Sabda yang sama.
Terang yang sama.
Tetapi hati yang berbeda.
Dan hari ini, kita ada di posisi yang sama.
Pilihan jujur ada pada diri kita:
Apakah kita hanya mau melihat Yesus…
atau sungguh mengenal-Nya?
Apakah kita hanya mau mengenal gambaran tentang Allah…
atau sungguh mau mengalami Dia didalam hidup kita?
Melihat belum tentu mengenal.
Mengenal berarti membuka hati dan mau diubah oleh kasih-Nya.
Dalam Yesus, kita tidak hanya melihat dan mengenal saja, tetapi bagaimana kita dipanggil untuk mengalami hidup di dalam-Nya.
Marilah Berdoa
Tuhan Yesus,
Engkau telah menyatakan Bapa kepada kami,
namun sering kali hatiku masih tertutup.
Aku melihat… tetapi belum sungguh mengenal.
Aku mendengar… tetapi belum sungguh percaya.
Hari ini aku rindu melihat dengan iman,
mengenal dengan hati,
dan hidup bersama-Mu.
Bukalah mataku,
dan ubahlah hidupku,
agar melalui aku,
orang lain pun dapat melihat Engkau.
Amin.
Catatan Katekese Singkat:
Dalam iman Katolik, Yesus adalah wahyu sempurna Allah... dalam Dia, Allah menyatakan diri-Nya sepenuhnya kepada manusia.
Karena itu, mengenal Yesus berarti mengenal Allah sendiri.
Namun pengenalan ini bukan sekadar intelektual, melainkan relasi yang hidup:
melalui Sabda, sakramen, dan kehidupan sehari-hari.
Iman sejati bukan hanya melihat Yesus,
tetapi membiarkan hidup kita diubah oleh-Nya, hingga orang lain pun dapat melihat Allah melalui kita.

Komentar
Posting Komentar